Dongeng sunda Si Kabayan dan Lintah Darat

erita Kabayan dan Lintah Darat masih berlanjut. Tanpa membuang waktu, Kabayan dan sang istri segera mengeksekusi rencana mereka. Pertama, Nyi Iteung menyiramkan air tuak ke seluruh badan suaminya.

0
701
si kabayan

Dongeng Si Kabayan dan Lintah Darat merupakan cerita rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa Barat. Entah merupakan kisah nyata atau fiksi, cerita-cerita tentang Kabayan selalu menghibur dan penuh makna. Buktinya, kisah-kisah tersebut masih masyhur hingga sekarang.
Kabayan Terjerat Hutang Rentenir
Tidak berlebihan jika kita menyebut cerita Si Kabayan dan Lintah Darat adalah cerminan dari kehidupan sosial masyarakat kebanyakan. Kisah Kabayan tidak pernah lepas dari fenomena sosial sehari-hari masyarakat umum. Mungkin inilah sebabnya tokoh Kabayan mudah diterima dan pahami oleh semua kalangan masyarakat.
Menurut cerita, Kabayan merupakan seorang anggota masyarakat dengan kehidupan ekonomi yang pas-pasan. Ia hidup bersama istrinya, Nyi Iteung yang sederhana dan selalu menerima suaminya apa adanya. Bila kondisi keuangan benar-benar tandas, Kabayan meminjam uang kepada kerabat maupun tetangganya.
Namun pada suatu saat, Kabayan terpaksa harus meminjam uang kepada seorang rentenir. Padahal ia tahu resikonya yaitu bunga pinjaman yang semena-mena dan mencekik si peminjam. Masalah keuangan hanya selesai sebentar, ia harus menghadapi masalah baru berupa tagihan yang lebih rumit.
Kabayan pun kian hari semakin galau. Bagaimana cara ia melunasi pinjaman tersebut? Sedangkan bunganya sudah berjumlah berkali-kali lipat dari nilai pinjaman pokok. Dari situasi yang sangat menghimpit tersebut, tiba-tiba Kabayan teringat pesan mertuanya:
“kabayan, setiap manusia pasti memiliki rasa takut. Meskipun tampaknya ia tak takut kepada Tuhan sekalipun. Ketakutan adalah niscaya sebagai kelemahan manusia. Sumber ketakutan inilah yang perlu kamu ketahui untuk mengalahkan musuhmu”. Kurang lebih demikian nasihat sang mertua.
Setelah mengingat petuah tersebut, Kabayan terperanjat. Ia mendapatkan satu ide cemerlang untuk melepaskan diri dari jerat sang rentenir yang hari ini akan datang menagih tersebut. ia segera menghampiri Nyi Iteung dan menjelaskan rencananya. Nyi Iteung tersenyum geli.

Eksekusi untuk Mengelabui Sang Rentenir
Cerita Si Kabayan dan Lintah Darat masih berlanjut. Tanpa membuang waktu, Kabayan dan sang istri segera mengeksekusi rencana mereka. Pertama, Nyi Iteung menyiramkan air tuak ke seluruh badan suaminya. Setelah seluruh badannya basah, Kabayan menggulingkan diri di atas hamparan kapuk putih hingga seluruh tubuhnya tertutupi.
Selanjutnya, Kabayan mengenakan topeng khas Si Cepot pada wajahnya. Langkah terakhir, ia memasukkan dirinya ke dalam kurungan ayam. Inilah strateginya untuk mengelabui sang rentenir untuk melunasi hutangnya. Setelah semuanya siap, yang ditunggu pun datang, yaitu si rentenir.
Ketika mendengar ada seseorang mengetuk pintu rumah dengan keras, Nyi Iteung segera tahu bahwa itu si rentenir. Dengan terburu-buru ia membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu.
“Mohon maaf tuan, kang Kabayan baru saja keluar rumah. Bagaimana jika tuan menagih hutang di lain waktu. Sebab suami saya juga ini tadi ada urusan mendadak” akting Nyi Iteung sedikit panik.
“tidak bisa dong nyi. Kan dia tahu saya mau ke sini, harusnya dititipkan nyai kalau memang ada alasan mendesak. Tidak bisa nyai. Harus bayar hari ini. Saya tidak mau tahu, ke mana dia pergi? Saya akan susul kalau perlu!” ucapnya tegas.
Kini Nyai Iteung ikut duduk di kursi, bersiap untuk menjelaskan.
“Suami saya baru saja menemukan burung aneh tuan. Sangat aneh. Itulah mengapa dia sampai harus melaporkannya ke pak Polisi. Nantinya, pak polisi akan kemari untuk mengambil burung tersebut”.
“Dimana burung itu sekarang?” tanya rentenir makin penasaran.
“Ada di halaman belakang rumah, tuan. Namun pesan suami saya, jangan sampai ada yang melihat burung aneh tersebut”.

Rencana Kabayan Berhasil
“Kenapa tidak boleh lihat? Saya mau lihat”
Oleh karena dikuasai oleh rasa penasaran, si rentenir bergegas menuju ke kurungan ayam yang tertutup tersebut. Tanpa pikir panjang, ia membuka kurungan ayam dan larilah sekelebat burung besar dengan bulu berwarna putih dan berkepala merah.
Sang rentenir hanya melongo melihat burung tersebut lari secepat kilat ke dalam semak-semak. Burung yang sebenarnya adalah Kabayan tersebut berlari kencang sambil mengepak-ngepakkan tangannya dan berteriak “wek-wek-wek-wek”.
Melihat ‘burung aneh’ tersebut kabur dari kandangnya, Nyi Iteung pun histeris.
“Tuan.. bagaimana ini? burung yang mungkin hanya satu-satunya di dunia itu sudah kabur. Tuan harus bertanggung jawab. Polisi pasti akan mempertanyakan burung tersebut. Pasti Polisi akan datang beberapa saat lagi, tidak mungkin bisa menangkapnya”. Nyi Iteung kebingungan sambil menangis.
“Pak Polisi pasti akan murka sekali karena kehilangan burung itu. Jika tahu siapa pelakunya, pasti pak Polisi tersebut akan memenjarakan Anda tuan…”
Rentenir yang sejak tadi panik mendengar teriakan dan tangisan Nyi Iteung berubah menjadi pucat. Kemudian dengan wajah memelas, ia memohon,
“Nyai, tolong jangan melaporkan saya ke polisi. Saya tidak mau dipenjara. Sebagai gantinya, saya anggap hutang suami Nyai semuanya lunas”.
Sang rentenir segera lari terbirit-birit. Nyai Iteung tersenyum dengan puas sambil melirik suaminya yang bersembunyi di balik semak-semak.

Pesan Moral dari Dongeng si Kabayan
Jika kita mau mencermati, cerita Kabayan dan Lintah Darat mengandung banyak sekali pesan moral. Pesan-pesan tersebut bisa menjadi pelajaran bagi kita dalam menjalani kehidupan saat ini. Singkatnya, supaya kita tidak mengulang kesalahan yang sama.
Lalu, apa sajakah pesan moral dari kisah sejarah Kabayan bersama rentenir?
1. Jangan Mendekati Riba
Kabayan mengajarkan kita akibat dari meminjam rentenir. Praktik menggandakan uang dalam bentuk pinjaman secara membabi buta adalah larangan keras dalam agama. Baik pemberi pinjaman maupun peminjam uang sama-sama mendapat dosa besar dan balasannya di dunia maupun akhirat.
Tapi bagaimana jika dalam keadaan darurat seperti halnya Kabayan?
Dari legenda si Kabayan ini, kita bisa tahu bahwa dalam keadaan apapun, riba tetaplah merugikan. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita mencari solusi lain yang lebih aman dan tentunya tidak menyalahi larangan agama.
2. Orang Semakin Dilarang Semakin Penasaran
Nilai moral selanjutnya adalah, sebuah larangan justru menimbulkan rasa penasaran yang semakin besar. Seperti si rentenir yang semakin penasaran dengan burung aneh ketika Nyi Iteung semakin melarangnya.
3. Ketakutan adalah Kelemahan
Pesan terakhir bisa kita dapatkan dari nasehat bapak mertua kepada Kabayan. Setiap manusia pasti memiliki ketakutan, oleh karenanya niscaya memiliki kelemahan. Dalam cerita ini, rentenir memang tidak memiliki ketakutan terhadap larangan Tuhan, namun ternyata ia justru takut kepada sesama manusia (polisi).
Karena kelemahan adalah keniscayaan bagi manusia, jangan sampai bersifat sombong. Tugas manusia justru adalah mengenali kelemahan dirinya agar tidak mudah terkena tipu daya orang lain.

Demikian ulasan lengkap mengenai cerita Si Kabayan dan Lintah Darat beserta pesan moral di dalamnya. Selain cerita di atas, masih banyak lagi cerita tentang Kabayan yang tidak kalah menarik dan wajib Anda ketahui. Jangan lupa untuk selalu mengambil hikmah dari setiap cerita tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here